Sesaat langit memendam semua keluh kesahnya, langit tak ungkapkan semua yang ia rasakan disore itu. Sesaat langit tak tampakan kesedihannya, karena masih tak kerasan dengan matahari yang masih tersenyum pada tanah yang mulai gelap karna sinarannya.
Sesaat kisah sore itu masih berjalan diatas sebuah motor matic, kisah yang tak kunjung berakhir sampai tiba didepan alun-alun didaerah yang kecil.
Sore itu tak tampak langit mulai menutup mata untuk memberikan kesempatan bulan nampak, namun langit menurunkan rintik air yang memberi tanda kisah sore itu berakhir.
Seragam SMA yang mulai kusam oleh debu seharian itu mulai menghilang meninggalkanku dengan sebungkus roko yang ku tahan tanpa ku bakar. Rasanya saat itu pertanda tak akan terulang lagi kisah yang singkat itu, senyumannya hanya berbekas sepersekian menit sampai menghilang dibelokan pemisah pandangan.
Ingin ku teriak memintanya kembali, namun tak ada daya yang membuatnya kembali. Tak ada bayangan untuk melihatnya kembali dihari esok, hanya secarik kertas terlukis senyuman yang ku sirat diatas hamparan kesepian di sore itu.
Seperti tak ada harapan, keesokan paginya aku hanya ingin melihat wajahnya walau tertutup helm. Hanya sesaat, walau sekejap aki melihat senyum menyapa pada teman-teman sebaya. Harapan itu tak tersampaikan sampai pada hari dimana senyuman itu hilang untuk selamanya, namun aku masih terdiam pada impian itu.
Kini hanya rasa rintik hujan pagi itu yang terasa, rintik yang selirih dengan hati yang bahagia bercampur keluhan untuknya. Kini ..
Hujan rintik turun sedikit demi sedikit,
bagai rangkaian cerita yang tertulis setitik demi setitik. Air jatuh dari wadah
besar di langit, air mengguyur semua hal yang ada dibumi tanpa melihat apa yg
terjadi. Air mengalir dari atap-atap bocor rumah, menetes perlahan sampai
terdapat pojok basah digenangi air hujan.
Kisah tak akan selamanya tertulis panjang
dalam drama yg diciptakan tuhan, cerita tak akan menyenangkan bila semua
terlihat selalu bahagia dan lancar. Cerita terlihat bagai suara terompet yang
tak selalu terdengar keras, namun cerita akan sangat menyenangkan bila
terdengar seperti suara terompet yang berirama.
Malam slalu sunyi bila hanya ditemani oleh
bulan dan bintang, namun malam terasa sangat meriah disaat air hujan jatuh
menetes ke pucuk pepohonan dan menciptakan nada yang semilir dengan besarnya
angin.
Hati akan sangat sunyi bila hanya merasakan
berbagai macan keramahan didunia, namun hati akan terasa sangat ramai disaat
keramahan dicampur dengan kebahagiaan yang lahir dari hati yang terpilih.
Entah tuhan akan memberikan kesunyian atau
keramaian dalam hati, entah tuhan akan menciptakan tempat bagi takdir yang
telah ia tentukan, entah tuhan aka menempatkan bagi seseorang untuk mengisi
hari-hari yang tak terhujani oleh air hujan.
Hujan memang slalu Nampak indah jika turun
kedunia, memberikan kenyamanan dan kebahagiaan untuk penunggu dunia, hujan
slalu Nampak meluangkan waktu untuk menghiasi kepenatan dunia.
Hujanku, kini tak pernaha turun lagi walau
aku menanti. Hujanku masih ku tunggu sampai ujung kepala ini basah, karena
hujanku membuat semuanya terasa indah dan terasa hidup.
Mulai sedih dan menyedihkan
dalam malam, aku sedih dalam kesunyian yang tak pernah terbantahkan oleh emosi
yang tak kunjung surut. Wahai malam yang selalu memuja bulan, kemudian terus
membalut dan menyelimuti malam indah ini. Kupersembahkan sebuah lagu malam yang
tak akan pernah terlupakan oleh bintang, namun apa yang akan ku pilih dari
semua bintang terselimuti sinaran bulan malam ini. Aku merangkak masuk dalam
kegelapan yang tak akan pernah tersinari cahaya itu, meraba-raba seluruh
kesunyian yang terus mengharapkan sebuah cahaya malam dalam kesunyian ini.
Teriak dan terjebak dalam
perihnya kesunyian dimalam yang mulai gelap gulita ini, teruskanlah apa yang
menjadikan semua kenanganku melegam dalam malam sunyi ini. Apa itu yang terus
saja mengganggu semua yang aku inginkan? Ingatkah pada sebuah janji persahabatan
yang tak akan ternoda oleh rasa cinta pada sesama makhluk berakal ini?? Apa
yang akan kau teruskan dari perasaan yang tak kunjung usai perihnya?? Dan cukup
pada semua bintang yang membayangi cahaya bulan.
Kemuadian, terjadikah semua
kenangan indah pada malam yang sunyi dibalut cahaya bulan itu akan terlintas
dalam pikiranku. Hatiku, mulai merasa semua yang telah terjadi tak akan mungkin
bisa ku harapkan walau merangkak meraih kepahitan. Tiada lagi rasa yang membuat
aku menganggapmu teman, sahabat, ataupun yang akhirnya kau minta menjadi kawan.
Tak bisa lebih dari itu semua yang ku harapkan, walau aku berkata
semua akan kau akhiri sampai aku retak bak bejana yang selalu terhias dalam
kesunyian malam.
Kini, sudikah kau terima semua
kenangan yang mungkin kau lupakan sejenak dalam anganmu. Akulah yang harus kau
pilih, karena semua yang membuat kau bahagia adalah semua yang terjadi pada
diriku. Setelah perpisahan yang terjadi itu, malamku memberikan cerita yang
amat pahit. Enggankah kau memberi sebuah kesempatan yang tak akan kau beri pada
hati yang lain, mungkinkah kau hanya mencari kebahagiaan untuk melupakanku dan
menghilangkan bayangan cinta pertamamu.
Ku tetap akan persembahkan
sebuah lagu malam, tak akan pernah hilang dalam semua keinginanku.
Hujan tak berhenti sampai dini hari, bahkan sampai tanah
basah kuyup disiram oleh air dari langit. Rasa dingi yang terasa dalam hati
menjalar keluar rumah dengan basahnya dedaunan dan rerumputan. Rasa ingin
melihat keluar, rasa ingin sengaja terguyur hujan malam ini. Melihat semua
terasa segar akan guyuran air itu membuat hati ini inginkan kesegaran yang didapat
makhluj tuhan diluar. Bersamaan merasakan segarnya air hujan, merasakan
hangatnya kebersamaan dengan semua yang dedaunan itu rasakan.
Kini lihatlah aku merasa cemburu pada dedaunan yang basah
bersamaan ranting dan seluruh bagian dari pohon, merasa cemburu pada
kebersamaan rerumputan dan tumbuhan-tumbuhan parasite lainnya. Aku yakin mereka
merasa hangat saat harus diguyur oleh air sedingin itu. Tetap bersama walau
melewati dinginnya udara malam, dan tetap bersama melewati malam dengan guyuran
hujan yang belum berhenti sejak petang tadi.
Kini lihatlah aku yang merasa sendiri tanpa seseorang yang
selalu aku inginkan, tuhan belum memberikan salah satu asa dan citaku bersama
dengan takdirku. Aku slalu berbicara pada diriku sendiri, takdir diciptakan
oleh tuhan dan takdir akan ditentukan oleh diriku sendiri. Saat air hujan turun
aku merasa itu akan berada diatas kepalaku bila aku putuskan untuk keluar dari
atap surge kamarku.
Bila ku lantunkan lagu yang slalu memuji kesederhanaannya,
terasa rindu pada semua senyuman yang dulu kudapat sejenak. Senyuman yang slalu
ku inginkan dalam setiap harinya, senyuman yang slalu ku impikan hadir saat
pertama ku buka mata ditengan embun pagi. Walau hanya sebua khayalan, namun aku
akan tentukan itu untuk menjadi sebuah takdir yang tak mungkin orang percaya
pada kenyataannya.
Coba kau lihat malamku, bergelimang dengan berbagai khayalan
untuk tetap berjalan bersama dalam waktu yang panjang. Coba kau lihat malamku
yang tak pernah diguyur hujan, karena semua hujan yang turun bukanlah untukku
namun untuk makhluk yang memiliki rasa
bahagia. Coba kau lihat malamku yang tak akan pernah ada senyummu, apa
jadinya hidupku tanpa senyuman yang slalu ku inginkan.
Indahnya melewati hujan denganmu, menyusuri pekatnya malam,
melangka melewati terowongan gelap dan mencari setitik cahaya yang akan
dibangun menjadi sinar yang menerangi kelamnya kehidupanku. Hidupku suatu
perjuangan, cintaku suatu perjuangan yang tak akan berhenti sampai tuhan
berkata lain. Hidupku slalu ku berikan pada jalan tuhan, walau sering kali
jalan yang tuhan berikan tak seindah yang slalu ku bayangkan. Tapi tuhan
memberikanku impian dalam jalan berbeda untuk terus melangkah pada arah yang
telah ia janjikan untukmu. Hanyalah padamu arah yang aku sebut dengan
kehidupan, tak peduli sesulit apapun namun aku akan tetap berjalan untuk
langkah dan impian terbesarku.
Aku
masih teringat, masih mengingat, berusaha menyimpan, bertahan memendam semua
rasa. Aku tak bisa berbohong, aku tak bisa menampik, aku tak bisa menghindar,
aku tak bisa berpaling kemudian berdusta pada hatiku sendiri. Aku ingin marah,
ingin teriak, ingin mengacau dan aku ingin berlari menjauh dari kenyataan. Aku
terlalu merasa, aku terlalu meraba, aku terlalu bertahan dengan semua yang ku
pendam selama ini. Aku tak mau berbohong, aku tak mau menghindar, aku tak bisa
menyebrang, aku tak tahu apa yang harus ku lakukan dengan semua yang telah lama
terpendam. Aku ingin katakan, aku ingin ucapkan, aku ingin ungkapkan, tapi aku
tak mau melakukan semua itu sekarang ataupun nanti. Aku ingin pergi,
mengasingkan diri, memendam diri dalam keruhnya langit malam, tapi aku tak mau
terus terdiam dalam semua hal yang ku pendam, aku panik, bingung, resah,
gelisah dan tak pernah bisa bertahan untuk memendam semua yang aku rasakan. Aku
ego, aku naif, aku hanya memikirkan apa yang aku tak bisa lakukan.
Cinta
lamaku......
Hujan tak sederas kemarin, tanah
dibuat basah seharian ini oleh anugrah dari tuhan ini. Ku lewati dengan hati
yang gerah dan panas, hujan ini tak memberikan efek yang berbeda padaku
sendiri. Ku lihat keluar jendela kamar, anak-anak kecil sedang asik bermain
dengan segarnya air hujan yang turun. Saling melempar dengan tanah yang
digulung-gulung menjadi tumpukan bola tanah basah, terlihat menyenangkan
melihat tawa mereka.
Cukup membuatku mengalihkan suasana
sendu yang tetap bertahan dari lirik sedih semalam, bukan karena aku tak mampu
namun karena aku terlalu kuat menahan semua kebahagiaan yang bukan untukku.
Memang terdapat lirik sedih, namun itu semua berasal dari kebahagiaan yang
harusnya tak ku dapat. Aku tak menyangka dengan apa yang telah aku jalani, aku
tak inginkan kebahagiaan ini. Semua bisa ku tutupi dengan senyuman kenyamanan
yang menjadi jurus ampuhku.
Hujan masih saja mengguyur tanah
sampai menggenangi beberapa bagian rumah, sepertinya laju air tak lancar dari
selokan yang ku buat kemarin. Laju air itu mengingatkanku tentang apa yang
sudah ku bangun dengan baik, namun terhambat hanya oleh beberapa tumpukan
kerikil-kerikil kecil yang menghambat. Ingin ku sapu hambatan itu, namun tak
dapat ku sisihkan penghambat itu. Kesedihanku tertumpuk pada bagian yang sulit
untuk ku sapu bersih, karena aku masih ingin menerobos penghambat itu dengan
segenap kekuatanku.
Lama kelamaan air itu semakin besar
dan sedikit demi sedikit menerobos celah-celah kerikil yang menjadi penghambat,
satu persatu kerikit itu mulai runtuh karena kekuatan besar yang dimiliki
aliran air. Terlihat air begitu lancer mengalir pada tujuannya, namun tidak
semua mengalir pada tempat yang dituju. Air mengalir dan menyusup pada
lubang-lubang kecil disela-sela selokan, terlihat deras air mengalir sedikit
pada tempat tujuannya. Perjalanan air pada tempat yang dituju cukup membuatku
bingung, karena kekuatannya terpecah dan terpisah pada arus lain.
Aku coba keluar dari ruang renungan
malamku untuk melihat lebih jelas kemana arus air itu akan terhenti. Sangat
terlihat jelas air itu lama kelamaan semakin kecil volumenya, namun beberapa
saat kemudian aku tersadar akan aliran itu yang semakin lama semakin mendekat pada
satu tempat penampungan air yang ku buat kemarin. Hujan makin deras, bukan
hanya tanah yang basah tapi kepalakupun makin basah dengan tetesan air hujan.
Hujan mulai reda, namun tetap ku
pandangi aliran air itu sampai waktunya aku mulai terhentak kaget pada
perjalanan air itu. Air itu mulai berbelok pada satu arah yang sama, aliran
yang tadinya memiliki jalan masing-masing kembali menjadi aliran air yang
berolume besar. Ya jalan memang berbeda, namun perbedaan itu akan tetap tertuju
pada satu jalan yang sama dan tujuan yang sama.


