Sesaat langit memendam semua keluh kesahnya, langit tak ungkapkan semua yang ia rasakan disore itu. Sesaat langit tak tampakan kesedihannya, karena masih tak kerasan dengan matahari yang masih tersenyum pada tanah yang mulai gelap karna sinarannya.
Sesaat kisah sore itu masih berjalan diatas sebuah motor matic, kisah yang tak kunjung berakhir sampai tiba didepan alun-alun didaerah yang kecil.
Sore itu tak tampak langit mulai menutup mata untuk memberikan kesempatan bulan nampak, namun langit menurunkan rintik air yang memberi tanda kisah sore itu berakhir.
Seragam SMA yang mulai kusam oleh debu seharian itu mulai menghilang meninggalkanku dengan sebungkus roko yang ku tahan tanpa ku bakar. Rasanya saat itu pertanda tak akan terulang lagi kisah yang singkat itu, senyumannya hanya berbekas sepersekian menit sampai menghilang dibelokan pemisah pandangan.
Ingin ku teriak memintanya kembali, namun tak ada daya yang membuatnya kembali. Tak ada bayangan untuk melihatnya kembali dihari esok, hanya secarik kertas terlukis senyuman yang ku sirat diatas hamparan kesepian di sore itu.
Seperti tak ada harapan, keesokan paginya aku hanya ingin melihat wajahnya walau tertutup helm. Hanya sesaat, walau sekejap aki melihat senyum menyapa pada teman-teman sebaya. Harapan itu tak tersampaikan sampai pada hari dimana senyuman itu hilang untuk selamanya, namun aku masih terdiam pada impian itu.
Kini hanya rasa rintik hujan pagi itu yang terasa, rintik yang selirih dengan hati yang bahagia bercampur keluhan untuknya. Kini ..